Menghadapi Bosnia dan Herzegovina di laga ini, opsi di bawah 2,5 justru menjadi arah referensi yang lebih realistis.
Pertama-tama, mari bicara soal kebiasaan lama Swiss: tipikal “guntur menggelegar, hujan tak kunjung turun”, penguasaan bola ditekan habis-habisan, umpan silang dan operan pendek berderet, tetapi saat benar-benar tiba di depan gawang, penyelesaian akhirnya justru melempem. Pada laga pembuka melawan Qatar, mereka mendominasi sepanjang pertandingan, melepaskan 26 tembakan tapi hanya mencetak satu gol lewat penalti; dalam situasi open play, mereka bahkan gagal memanfaatkan satu-satunya peluang satu lawan satu yang cukup layak. Membongkar pertahanan rapat memang bukan keunggulan mereka. Setelah unggul pun, mereka masih suka memperlambat tempo dengan operan-operan untuk menghabiskan waktu. Jika bisa menang 1-0, mereka hampir pasti tidak akan memaksakan 2-0. Menang tapi kalah handicap sudah jadi hal yang biasa.
Di kubu Bosnia dan Herzegovina, ceritanya bahkan tak perlu banyak dibahas. Setelah 12 tahun, mereka kembali ke Piala Dunia, dan tiket itu pada dasarnya diraih lewat pertahanan. Blok lima bek mereka dipasang sangat rapat, lini tengah juga suka memutus ritme lawan dengan pelanggaran, sementara di lini serang mereka hanya mengandalkan Džeko sebagai titik tumpu di udara. Usianya sudah tidak muda lagi, jadi tak lagi kuat untuk terus berlari, serangan balik pun tidak menghasilkan kecepatan. Jika mereka bisa mendapatkan dua atau tiga peluang yang benar-benar layak sepanjang laga, itu sudah tergolong performa di atas normal.
Satu tim efisiennya rendah saat menyerang, yang satu lagi pada dasarnya tidak terlalu berniat menyerang. Sebagian besar waktu akan habis di perebutan bola di lini tengah dan sirkulasi bola, sementara tembakan yang benar-benar mengancam bisa dihitung dengan jari. Jika berjalan normal, total gol sangat sulit menyentuh batas 2,5. Tentu saja sepak bola bukan ilmu pasti 100 persen, tetapi dari sudut pandang ini, ruang toleransinya memang jauh lebih besar.