Jangan cuma begitu mendengar “pertandingan hidup-mati” lalu langsung membayangkan duel saling serang. Untuk laga Ceko melawan Afrika Selatan, under 2,25 justru jadi arah referensi biasa yang lebih aman.
Banyak orang mengira kalau kedua tim sama-sama harus mengejar poin, mereka akan bermain terbuka. Nyatanya justru sebaliknya — dua gelandang kunci Afrika Selatan langsung terkena skorsing akibat kartu merah, sehingga pertahanan lini tengah dan aliran bola mereka langsung putus. Pelatih tentu tidak mungkin nekat menyerang habis-habisan; hampir pasti mereka akan memasang lima bek dan mengerahkan seluruh pemain untuk bertahan rapat di kotak penalti, menjadikan “tidak kebobolan” sebagai prioritas utama. Kalau bisa mencuri satu gol sudah untung, dan menahan imbang pun sepenuhnya bisa diterima.
Lihat juga Ceko. Sekilas mereka punya keunggulan bola-bola atas lewat Patrik Schick dan Tomas Soucek, tetapi kenyataannya cara mereka membongkar pertahanan rapat sangat monoton. Hampir 40 persen gol mereka bergantung pada bola mati, sementara kemampuan membangun serangan lewat permainan terbuka dan penetrasi dari bawah biasa saja. Pada laga pembuka melawan Korea Selatan, mereka juga tidak menciptakan banyak peluang emas. Saat lawan menumpuk pemain di kotak penalti, akurasi umpan silang memang sudah rendah; untuk mencetak gol beruntun jelas tidak mudah.
Kedua tim sama-sama tidak boleh kalah, jadi permainan hampir pasti akan berjalan hati-hati. Pada fase awal, akan banyak saling menguji dengan tempo lambat. Afrika Selatan pada laga pertama bahkan tak mencatat satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan, kontribusi serangannya sendiri sangat minim. Besar kemungkinan skornya berakhir 1-0, 0-0, atau 1-1, dan total golnya sulit menyentuh garis 2,25. Tentu saja sepak bola tidak punya kepastian mutlak, tetapi dari sisi toleransi risiko, arah ini jelas lebih menarik.